Gelombang Resign Setelah Lebaran, Fenomena atau Strategi?

Gelombang Resign Setelah Lebaran, Fenomena atau Strategi?

Penulis
Danish Syahputra
Tanggal publish
18 Februari 2026

Setiap momen Lebaran berlalu, pasti ada satu fenomena yang selalu terjadi di dunia kerja yaitu gelombang resign. HRD akan banyak menerima surat pengunduran diri, banyak yang “open to work”, dan grup kantor yang kehilangan beberapa nama.

 

Pertanyaannya, apakah ini sekadar kebetulan musiman? Atau sebenarnya resign setelah Lebaran adalah strategi yang sudah diperhitungkan banyak karyawan?

 

Artikel ini akan membahas fenomena resign setelah Lebaran dari sisi psikologis, finansial, hingga strategi karier.

Mengapa Banyak Orang Resign Setelah Lebaran?

Jika ditarik polanya, ada beberapa alasan kuat mengapa momen setelah Lebaran sering menjadi waktu berpindah.

1. THR Sudah Cair

Tunjangan Hari Raya atau THR sering menjadi faktor utama karena dengan THR di tangan, banyak karyawan merasa memiliki “modal aman” untuk bertahan beberapa bulan tanpa gaji tetap.

 

Beberapa orang bahkan memang sudah merencanakan resign jauh-jauh hari, lalu menunggu hingga THR cair agar tidak kehilangan hak finansial tersebut.

2️. Momen Refleksi Setelah Ramadan

Ramadan sering menjadi waktu refleksi diri, banyak orang mulai bertanya mengenai keputusan-keputusan dalam hidupnya seperti:

  • Apakah pekerjaan ini masih sesuai dengan tujuan hidup saya?

  • Apakah saya berkembang di sini?

  • Apakah saya bahagia dengan lingkungan kerja sekarang?

Lebaran menjadi momentum bagi banyak orang untuk memulai lembaran baru, dan bagi sebagian orang, lembaran baru itu berarti pekerjaan baru.

3️. Momentum Evaluasi Tahunan

Secara siklus, kuartal pertama biasanya sudah berjalan dan dapat menilai apakah target terlihat realistis atau tidak, dan biasanya bonus dan evaluasi kerja tahun lalu sudah diterima.

 

Jika merasa tidak ada kenaikan baik gaji atau jenjang karir secara signifikan, hingga beban kerja meningkat. Maka resign setelah Lebaran menjadi pilihan logis.

Apakah Resign Setelah Lebaran Hanya Ikut-ikutan?

Fenomena ini memang terlihat masif, tapi bukan berarti semua orang resign tanpa perhitungan.

 

Ada dua tipe keputusan resign setelah Lebaran:

1. Resign Emosional

Keputusan diambil karena jenuh, tekanan kerja, atau dorongan sesaat setelah momen refleksi.

2. Resign Strategis

Keputusan sudah direncanakan matang seperti offer letter baru, atau sebenarnya ingin fokus berbisnis. 

 

Perbedaan keduanya sangat menentukan masa depan karier seseorang.

Dari Sudut Pandang Perusahaan

Gelombang resign setelah Lebaran bukan hanya berdampak pada karyawan, tetapi juga perusahaan.

 

Beberapa dampak yang sering terjadi seperti rekrutmen yang meningkat hingga beban kerja yang bertambah karena kekurangan orang.

 

Tidak heran jika banyak perusahaan mulai melakukan retensi karyawan sebelum Ramadan, seperti memberikan engagement tambahan atau komunikasi karier yang lebih jelas.

 

Risiko yang Perlu Dipertimbangkan saat Resign setelah Lebaran

Sebelum ikut arus, ada beberapa hal penting yang perlu dihitung secara realistis bagi kamu 

1. Dana Darurat Aman?

Idealnya, sebelum resign tanpa pekerjaan baru, seseorang memiliki dana darurat minimal 3–6 bulan biaya hidup.

 

Tanpa perhitungan ini, keputusan resign bisa berubah menjadi tekanan finansial.

2️. Sudah Ada Rencana Selanjutnya?

Apakah ingin pindah perusahaan? Ganti bidang kerja? Atau berbisnis? 

 

Nah, resign tanpa arah yang jelas bisa membuat masa transisi terasa lebih berat.

3️. Kondisi Pasar Kerja

Pasar kerja juga fluktuatif, jadi beberapa industri sedang tumbuh, sementara yang lain melambat.

 

Resign strategis berarti memahami momentum industri, bukan sekadar mengikuti tren musiman.

Banyak yang Resign untuk Memulai Usaha

Menariknya, tidak sedikit orang yang memanfaatkan momen setelah Lebaran untuk memulai bisnis.

 

Alasannya beragam:

  • Ingin kebebasan waktu

  • Ingin penghasilan tanpa batas

  • Ingin mengelola usaha sendiri

Namun membangun usaha bukan sekadar keluar dari pekerjaan lama, tapi dibutuhkan juga beberapa hal seperti berikut:

  • Model bisnis jelas

  • Perhitungan cash flow

  • Strategi pemasaran

  • Konsistensi operasional

Banyak yang sukses karena perencanaan matang, tidak sedikit juga yang akhirnya kembali bekerja karena kurang persiapan.

Fenomena atau Strategi?

Jika dilihat secara luas, gelombang resign setelah Lebaran memang fenomena tahunan. Namun di balik fenomena tersebut, terdapat dua hal yang berbeda yaitu keputusan impulsif dan strategi yang matang.

 

Resign bukanlah keputusan salah, bahkan pada banyak kasus resign adalah langkah penting untuk pertumbuhan karier. 

 

Sedangkan keputusan tanpa perhitungan sering kali didorong oleh emosi sesaat.

 

Gelombang resign setelah Lebaran bukan sekadar tren tahunan, melainkan kombinasi antara momentum psikologis, faktor finansial, dan evaluasi karier.

 

#viral
Mau kirim paket tapi males keluar rumah?
Cobain Pick-up sekarang!
logo-btn.png
Kirim sekarang

Lihat promo spesial!

logo-btn.png
Semua promo