Tahukah kamu bahwa 86% konsumen membeli produk bukan karena pertimbangan rasional, tapi karena bawaan emosional?[1] Dengan kata lain, emotional branding adalah kunci merajut ikatan emosional yang dalam dengan pelanggan. Kali ini Lion Parcel akan kupas tuntas strategi jitu membangun koneksi yang lebih dari sekadar transaksi.
Apa Itu Emotional Branding?
Emotional branding artinya praktik membangun brand yang menyentuh keadaan emosional, kebutuhan, dan aspirasi konsumen.
Jadi bukan sekadar menawarkan produk atau layanan, tapi benar-benar masuk ke dalam perasaan mereka (apa yang diimpikan, apa yang ditakuti, apa yang menimbulkan rasa aman atau bangga). Dengan begitu, terbentuklah hubungan emosional yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar transaksi biasa.
Nah, ada beberapa unsur utama dari emotional branding:
- Menghubungkan Brand dengan Emosi Spesifik: Ada emosi tertentu yang langsung terlintas di benak konsumen setiap kali melihat brand tersebut.
- Membangun Hubungan yang Lebih dari Sekadar Rasional: Di sini, konsumen tidak lagi berpikir “aku butuh ini” melainkan “aku ingin ini”. Jadi, konsumen merindukan brand tersebut bukan hanya karena fungsinya, tapi karena ada ikatan emosional yang kuat.
- Mendorong Keterikatan yang Bertahan Lama: Layaknya hubungan antar manusia, emotional branding menciptakan loyalitas yang tak lekang oleh waktu. Konsumen masih setia walau ada pilihan lain yang mungkin lebih murah atau lebih praktis.
Tapi kenapa emosi bisa punya pengaruh sebesar itu? Pasalnya, secara psikologis, emosi adalah penggerak utama di balik persepsi, keputusan pembelian, dan loyalitas pelanggan.
Ketika berinteraksi dengan sebuah brand, konsumen sebenarnya tidak hanya membeli produk atau layanan, melainkan ‘membeli’ perasaan. Emotional value adalah apa yang dirasakan tiap kali menggunakan produk tersebut. Jika perasaan itu positif dan konsisten, konsumen akan kembali lagi dan lagi.
Baca Juga:
- Sumber Penghasilan Rachel Vennya, dan Strategi Sukses Influencer Jadi Pebisnis
- Jangan Anggap Remeh! Ini Pentingnya Komentar di Media Sosial untuk Branding
- Tips Agar Tidak Tertipu Wedding Organizer, Belajar dari Kasus Viral Ayu Puspita
Pentingnya Emotional Branding untuk Bisnis
Setelah memahami pengertian emotional branding, sekarang pertanyaannya kenapa hal ini begitu penting untuk bisnis? Mari kita bedah satu per satu manfaatnya.
1. Pengaruh terhadap Loyalitas Pelanggan
Emotional branding terbukti ampuh meningkatkan loyalitas pelanggan. Pasalnya, hubungan emosional menciptakan keterikatan yang sulit digantikan oleh kompetitor.
Jika konsumen sudah merasa terikat secara emosional dengan sebuah brand, mereka tidak akan mudah berpaling. Loyalitas semacam ini jauh lebih kuat daripada sekadar belanja karena kebiasaan atau pertimbangan harga.
Baca juga: 3 Cara Branding Produk yang Bikin Bisnismu Cepat Dikenal
2. Meningkatkan Recall dan Pengenalan Brand
Konsumen cenderung mengingat brand yang membangkitkan emosi, bukan yang sekadar menawarkan fakta atau fitur produk. Kenapa begitu?
Karena otak manusia lebih mudah menyimpan memori yang terkait dengan perasaan. Alhasil, brand yang berhasil menyentuh emosi akan terus melekat di benak konsumen sampai bertahun-tahun kemudian.
3. Word of Mouth dan Marketing Organik
Pelanggan yang merasa terhubung secara emosional lebih mungkin merekomendasikan brand ke orang lain. Mereka tidak hanya menjadi pembeli setia, tapi juga “duta brand” secara sukarela.
Rekomendasi dari mulut ke mulut seperti ini punya kekuatan luar biasa karena datang dari kepercayaan dan pengalaman nyata, bukan dari iklan berbayar.
4. Diferensiasi di Pasar yang Kompetitif
Di tengah persaingan yang ketat, emotional branding bisa menjadi pembeda utama. Produk atau layanan mungkin mirip dengan kompetitor, tapi perasaan yang ditawarkan tak pernah sama. Dengan begitu, bisnis bisa tampil beda dan menonjol di mata konsumen, walau berkecimpung di pasar yang sudah ramai.
Baca juga: Biar Tidak Kalah Saing, Tingkatkan Brand Awareness Kamu dengan Cara Ini!
Contoh Emotional Branding
Berikut tiga contoh emotional branding marketing yang bisa menjadi inspirasi:
1. Coca-Cola: Share a Coke (2011)
Coca-Cola meluncurkan kampanye “Share a Coke” pertama kali di Australia pada 2011. Alih-alih menampilkan logo klasiknya, botol-botol Coca-Cola dicetak dengan nama-nama populer seperti Sarah atau James.
Tak ayal, orang-orang pun berburu botol dengan nama mereka sendiri atau nama orang terdekat. Mereka foto, bagikan di media sosial, sampai ada kolektor yang memburu puluhan nama berbeda.
Kampanye ini berhasil karena menyentuh hasrat manusia untuk diakui dan merasa istimewa. Sebotol minuman bersoda tiba-tiba terasa personal, seolah-olah dibuat khusus untuk tiap individu.
2. Apple: Think Different (1997)
Kampanye “Think Different” diluncurkan Apple pada 1997, segera begitu Steve Jobs kembali ke perusahaan. Kampanye ini menampilkan tokoh-tokoh inspiratif seperti Albert Einstein, Martin Luther King Jr., dan Muhammad Ali, yakni tokoh-tokoh yang berani berpikir berbeda dan mengubah dunia.
Bukannya menjabarkan spesifikasi komputer atau fitur teknis, Apple justru mengangkat cerita soal identitas. Apple mengajak audiensnya untuk melihat diri mereka sebagai orang yang kreatif dan inovatif.
Pesan yang tersirat jelas, jika kamu menggunakan Apple maka kamu adalah bagian dari komunitas orang-orang luar biasa ini. Strategi ini berhasil mengubah persepsi publik terhadap Apple, dari brand yang hampir bangkrut menjadi simbol inovasi dan gaya hidup modern.
3. Nike: Just Do It (1988)
Nike meluncurkan slogan “Just Do It” pada 1988, dan hingga kini masih menjadi salah satu tagline paling ikonik di dunia. Kampanye Nike selalu menampilkan cerita atlet, baik profesional maupun orang biasa, yang berjuang melampaui batas kemampuannya.
Apa yang Nike jual sebenarnya? Betul produknya adalah sepatu olahraga, tapi yang dijual adalah keberanian dan tekad. Setiap iklan Nike memicu berbagai macam emosi, dari rasa ingin mencoba sampai kebanggaan atas pencapaian kecil. Audiens pun termotivasi dan terinspirasi tiap kali melihat kampanye Nike.
Menariknya, pesan “Just Do It” ini universal. Bisa diterapkan untuk lari pagi pertamamu ataupun untuk keputusan hidup yang lebih besar. Nike berhasil menempatkan produknya sebagai teman dalam perjalanan personal setiap orang.
Tips Ampuh Menerapkan Emotional Branding
Sudah melihat contoh dari brand besar, lantas bagaimana menerapkannya di bisnis kamu sendiri? Berikut beberapa cara mudah yang bisa langsung kamu coba.
1. Kenali Audiens
Emotional branding berawal dari pemahaman yang detail tentang siapa audiens kamu sebenarnya. Tak melulu berupa data demografis seperti usia atau lokasi, tapi lebih ke arah psikografis dan perilaku mereka.
Caranya, mulai dari riset sederhana. Baca komentar mereka di media sosial, cek review produk kompetitor, atau lakukan survei kecil lewat Google Form. Tanya apa yang mereka takuti, apa yang mereka inginkan, tak ketinggalan pula apa yang membuat mereka frustrasi.
Kamu juga bisa memanfaatkan tools seperti Facebook Audience Insights atau Google Analytics untuk melihat pola perilaku online mereka. Selain itu, coba dengarkan langsung dari pelanggan yang sudah ada, bisa dengan mengobrol santai lewat DM atau bertukar email.
Intinya, kamu perlu tahu apa yang benar-benar penting bagi mereka di level emosional.
Baca juga: Cara Branding Bisnis Online: Tingkatkan Daya Tarik Produkmu!
2. Bangun Pesan yang Resonan secara Emosional
Pesan brand kamu harus menyentuh perasaan audiens, jangan sekadar menyampaikan informasi produk. Pikirkan emosi apa yang ingin kamu bangkitkan.
- Kebahagiaan?
- Kepercayaan diri?
- Rasa aman?
- Atau nostalgia?
Contohnya, jika kamu jual produk skincare, jangan hanya menggembar-gemborkan “mengandung vitamin C dan hyaluronic acid”. Coba ubah menjadi “bantu kamu tampil percaya diri bebas khawatir soal jerawat lagi”.
Atau untuk bisnis makanan sehat, daripada daftar kalori dan nutrisi, fokus ke pesan seperti “nutrisi seimbang untuk kamu yang peduli kesehatan keluarga”.
Menariknya, pesan emosional ini juga bisa kamu terapkan di sistem pembayaran. Misalnya untuk bisnis yang menawarkan Cash on Delivery, frame pesannya menjadi “bayar setelah barang sampai, karena kepercayaan kamu adalah prioritas kami”.
3. Gunakan Elemen Visual dan Narasi yang Konsisten
Mulai dari warna brand, tone of voice di caption, sampai gaya visual di setiap konten harus sejalan. Audiens perlu langsung mengenali brand kamu hanya dari melihat feed Instagram atau packaging produk.
Narasi juga harus konsisten. Jika kamu ingin dikenal sebagai brand yang peduli lingkungan, tunjukkan itu di setiap aspek, mulai dari konten media sosial sampai kemasan produk yang ramah lingkungan. Jangan sampai ada gap antara pesan dan aksi nyata.
4. Fokus pada User Experience yang Memicu Emosi Positif
Pengalaman pelanggan dari awal sampai akhir juga berperan besar dalam membangun koneksi emosional.
Mulai dari interaksi pertama, respons customer service yang cepat dan ramah, packaging produk yang rapi, sampai follow up setelah pembelian. Semua touchpoint ini harus kamu rancang supaya pelanggan merasa dihargai dan diperhatikan.
Contoh kecil yang bisa kamu lakukan adalah mengirim ucapan terima kasih di dalam paket atau memberi diskon ulang tahun khusus pelanggan setia.
Pada akhirnya, emotional branding adalah jalan untuk mengubah bisnis kamu menjadi brand yang benar-benar dicintai pelanggan. Bukan cuma dibeli, tapi dinanti-nanti. Ingin kirim produk dengan layanan tepercaya agar brand-mu makin mengena? Percayakan pengiriman ke Lion Parcel untuk handling logistik cepat dan aman.