FIFO dan FEFO

FIFO dan FEFO, Metode Manajemen Barang di Retail dan Bedanya

Penulis
Rizki Astuti
Tanggal publish
2 Maret 2026

Mengurus stok gudang seringkali merepotkan pebisnis. Sedikit saja salah, bisa rugi besar akibat produk rusak atau malah ketinggalan zaman. Oleh karena itu, FIFO dan FEFO memegang peran penting sebagai strategi ampuh mengelola inventaris.

 

Dua metode ini berguna untuk memastikan produk sampai ke tangan konsumen dalam kondisi paling prima. Lantas, mana yang paling pas bagi model bisnis kamu? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Sekilas tentang Metode First-In First-Out

Konsep FIFA dan FEFO

 

Coba perhatikan cara supermarket menyusun susu di rak, atau bagaimana toko baju menata koleksi terbarunya. Metode pertama yang orang paling sering gunakan adalah pendekatan berdasarkan urutan waktu kedatangan.

 

Begini cara kerjanya. Barang yang pertama kali masuk ke gudang atau staf pajang di rak toko wajib keluar lebih awal. Ibarat antrean orang di loket. Siapa yang datang duluan, petugas akan melayaninya lebih awal.

 

Metode ini berpegang pada asumsi bahwa kamu harus segera menjual barang yang sudah lama tersimpan sebelum nilainya anjlok. Di dunia ritel, pendekatan ini efektif menjaga aliran barang tetap lancar. Pasalnya, penumpukan stok lama di sudut gudang sering kali luput dari pengawasan mata.

 

Apabila kamu terus mendorong barang lama ke depan, kamu bisa menekan risiko barang berubah usang atau dead stock sampai titik minimal.

 

Walaupun terdengar sederhana, konsep FIFO dan FEFO sebenarnya punya perbedaan mendasar ketika kamu mengeksekusinya di lapangan.

 

Pada metode FIFO ini, staf gudang atau toko hanya perlu memantau tanggal masuk barang. Mereka tidak perlu repot mengecek kondisi internal produk satu per satu setiap hari.

 

Cukup pastikan barang baru masuk dari belakang, maka barang baru tersebut akan mendorong barang lama maju secara otomatis. Hal ini tentu meringankan beban kerja dan urusan administrasi pun tidak membingungkan.

Sekilas tentang Metode First-Expired First-Out

FIFO dan FEFO adalah

 

Kita beralih ke metode kedua yang lebih presisi. Di sini, waktu kedatangan barang ke gudang tidak lagi menjadi patokan. Prioritas utama berpindah sepenuhnya ke batas kedaluwarsa produk.

 

Meskipun barang baru tiba hari ini, jika masa simpannya lebih pendek daripada stok lama, kamu wajib mengeluarkannya lebih dulu.

 

Industri farmasi atau makanan segar wajib menggunakan pendekatan ini. Sebab menggunakan urutan kedatangan saja bisa berbahaya. Apabila barang baru datang dengan masa simpan pendek, kamu wajib mengeluarkannya segera demi menghindari kerugian.

 

FIFO dan FEFO adalah dua sisi berbeda. Satu bertumpu pada waktu masuk, satunya bertumpu pada waktu kedaluwarsa.

Penerapan metode berbasis kedaluwarsa ini menuntut ketelitian tingkat tinggi. Staf tidak bisa bekerja menggunakan pola rutin biasa, melainkan harus aktif memantau data tanggal kedaluwarsa setiap item.

 

Situasi ini menegaskan bahwa prinsip FIFO dan FEFO, adanya pergeseran beban kerja di lapangan. Sementara metode pertama lebih santai, metode kedua justru menuntut kewaspadaan penuh demi menjaga kualitas dan keamanan konsumen.

 

Baca Juga: 

Perbedaan FIFO dan FEFO

Perbedaan FIFO dan FEFO

 

Kamu perlu memahami perbedaan operasional dan finansial, sebelum menjatuhkan pilihan. Berikut adalah rincian perbedaannya untuk membantumu mengambil keputusan.

1. Pemicu Rotasi Barang

Hal pertama yang membedakan adalah alasan barang keluar. FIFO murni mengandalkan tanggal masuk. Sebaliknya, FEFO bergerak mengikuti sisa umur simpan produk.

2. Karakteristik Produk yang Dikelola

Bukan cuma itu, jenis barang juga menentukan metode mana yang cocok. FIFO dipilih untuk barang yang tidak bisa busuk namun rentan ketinggalan mode atau teknologi. Contohnya gadget, pakaian, atau perabotan rumah tangga.

 

Di sisi lain, contoh barang FIFO dan FEFO tentu beda peruntukannya. Metode FEFO mutlak hukumnya bagi produk seperti obat-obatan, daging segar, susu, dan kosmetik organik yang memiliki batas waktu pemakaian ketat.

3. Alur Fisik Gudang

Tata letak gudang pun akan ikut menyesuaikan. FIFO cenderung memiliki alur linier dan teratur. Barang masuk dari satu sisi, kemudian mengalir rapi ke sisi lain.

 

Namun, FEFO menghadirkan alur yang lebih dinamis dan acak. Barang baru dengan masa simpan pendek bisa saja menyalip antrean dan staf langsung menempatkannya di posisi paling depan agar pembeli segera mengambilnya. 

4. Kebutuhan Infrastruktur Teknologi

Membahas modal, sistem urutan kedatangan lebih ramah di kantong. Kerap kali, pencatatan manual atau sistem manajemen gudang dasar sudah cukup. Berbeda drastis dengan kebutuhan penyimpanan FIFO dan FEFO pada model berbasis kedaluwarsa.

 

Metode ini menuntut dukungan teknologi canggih seperti sensor pelacak waktu nyata atau sistem terintegrasi yang mampu memantau tanggal kedaluwarsa jutaan item secara otomatis. Investasi awalnya jelas jauh lebih besar.

5. Kecepatan Pengembalian Modal (ROI)

Karena investasinya minim, sistem urutan kedatangan menawarkan titik impas yang cepat. Biasanya dalam hitungan bulan, manfaat efisiensinya sudah terasa. Sebaliknya, sistem berbasis kedaluwarsa dengan segala kecanggihan teknologinya butuh waktu lebih lama untuk balik modal.

 

Perusahaan mungkin baru bisa merasakan keuntungan finansial bersih setelah setahun atau lebih, mengingat tingginya biaya awal bagi perangkat lunak dan keras pendukung.

6. Dampak pada Pengurangan Limbah

Efisiensi limbah menjadi sorotan menarik. FIFO cukup efektif mengurangi barang usang akibat tren, dengan efisiensi sekitar 20-30 persen. Namun, perbedaan sistem FIFO dan FEFO terlihat jomplang di sini.

 

FEFO justru adalah juaranya dalam menyelamatkan produk. Metode ini sanggup menekan angka pembuangan barang rusak sampai 85 persen. Bagi bisnis makanan, angka tersebut adalah penyelamat profit yang luar biasa.

7. Valuasi Aset dan Akuntansi

Dalam urusan laporan keuangan, FIFO memiliki kelebihan tersendiri, terutama ketika inflasi naik. Metode ini menjaga nilai aset perusahaan tetap terlihat tinggi di neraca keuangan. Perlu diketahui, orang sering mengaitkan istilah FIFO dan FEFO dalam retail dengan strategi pajak dan laba.

 

Sedangkan FEFO lebih mengutamakan penyelamatan fisik barang ketimbang manipulasi angka akuntansi. Jadi, butuh penyesuaian ekstra apabila kamu ingin menggunakannya untuk pelaporan pajak standar.

8. Risiko Kegagalan Utama

Setiap sistem pasti memiliki celah. Kelemahan sistem urutan kedatangan biasanya bersumber dari kelalaian manusia yang lupa menata rak. Contohnya barang lama tertinggal di belakang, kemudian rusak begitu saja.

 

Sementara itu, penerapan FIFO dan FEFO dalam retail modern menunjukkan bahwa risiko sistem berbasis kedaluwarsa justru ada pada data. Apabila input tanggal kedaluwarsa di sistem salah, seluruh rantai pasokan bisa kacau. Ketergantungan pada akurasi data menjadi harga mati di sini.

 

Cara Memilih Strategi yang Tepat

FIFO dan FEFO dalam retail

 

Lantas, metode mana yang sebaiknya kamu pilih? Keputusan ini penting bagi kelangsungan bisnis. Berikut beberapa langkah strategis yang bisa kamu jadikan pertimbangan.

1. Evaluasi Sifat Dasar Produk

Perhatikan dulu barang apa yang kamu jual. Apakah barang itu akan membusuk minggu depan? Atau barang itu bisa bertahan bertahun-tahun di gudang?

 

Apabila produkmu adalah barang elektronik atau baju, jangan buang uang untuk sistem FEFO yang rumit. Gunakan saja FIFO. Namun apabila jualanmu adalah seafood atau vaksin, wajib hukumnya menggunakan FEFO.

2. Cek Aturan Hukum yang Berlaku

Terkadang, pilihan itu bukan ada di tanganmu, melainkan di tangan regulator. Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memiliki aturan ketat mengenai peredaran obat dan makanan.

 

Apabila kamu bergerak di sektor ini, FEFO menjadi mandat yang tidak bisa kamu tawar demi keselamatan konsumen. Melanggar hal ini bisa berakibat fatal, mulai dari denda sampai pencabutan izin usaha.

3. Audit Kemampuan Teknologi

Coba tanya tim operasionalmu, seberapa canggih sistem gudang yang kalian miliki sekarang? Kalau singkatan kepanjangan FIFO dan FEFO saja masih asing bagi sistemmu, jangan memaksakan diri. Menerapkan FEFO butuh kesiapan data digital yang matang.

 

Apabila masih menggunakan kertas dan pulpen, lebih aman mulai dengan FIFO yang lebih sederhana sambil pelan-pelan menabung untuk upgrade teknologi.

4. Tentukan Prioritas

Ingin hemat biaya atau menjaga nama baik? FIFO memang ahlinya efisiensi biaya. Laporan keuangan pun terlihat cantik.

 

Namun, apabila janjimu kepada pelanggan adalah ‘kesegaran nomor satu’, penghematan itu tidak ada artinya jika pelanggan mendapatkan susu basi. Dalam kasus ini, FEFO adalah investasi untuk menjaga kepercayaan pelanggan, meski biayanya cukup mahal.

5. Pertimbangkan Strategi Hibrida

Siapa bilang harus pilih satu? Perusahaan ritel besar sering menggabungkan keduanya. Misalnya, FIFO diterapkan untuk lorong sabun dan tisu. Namun ketika masuk ke area dairy dan obat, sistemnya berubah menjadi FEFO.

 

Selain itu, kamu juga perlu bermitra dengan jasa logistik perusahaan yang paham betul cara menangani kedua jenis penanganan ini. Dengan begitu, pengiriman barang ke berbagai cabang tetap aman sesuai karakteristik produknya.

 

Pada akhirnya, menentukan metode rotasi stok yang ideal memang membutuhkan analisis mendalam terhadap jenis produk dan target pasar. Baik pendekatan berdasarkan urutan masuk maupun tanggal kedaluwarsa, keduanya memiliki keunggulan masing-masing.

 

Sementara itu, serahkan saja urusan kirim-mengirim stok barang dalam jumlah besar kepada ahlinya. Layanan BIGPACK dari Lion Parcel siap menjadi mitra andalanmu. Dengan tarif ongkir yang semakin murah untuk paket besar, distribusi produk jadi lebih efisien.

 

Dukung strategi FIFO dan FEFO gudangmu dengan pengiriman yang terpercaya. Gunakan Lion Parcel sekarang!

#optimasistok #jasapengirimanbarang
Mau kirim paket tapi males keluar rumah?
Cobain Pick-up sekarang!
logo-btn.png
Kirim sekarang

Lihat promo spesial!

logo-btn.png
Semua promo